Foto Lumajang Tempo Dulu: Melihat Alun-Alun Loemadjang dari Masa 1880–1920
Kali ini saya menemukan sebuah foto lama yang sangat menarik tentang Lumajang tempo dulu. Foto tersebut memperlihatkan pohon-pohon beringin di kawasan alun-alun Lumajang. Dalam keterangan aslinya yang menggunakan bahasa Belanda tertulis “Waringinbomen op de alun-alun in Loemadjang”, yang kurang lebih berarti “Pohon-pohon beringin di alun-alun Loemadjang.” Foto tersebut diperkirakan dibuat dalam rentang waktu 1880 hingga 1920. Artinya, gambar ini berusia lebih dari satu abad dan menjadi salah satu jejak visual yang menarik untuk melihat wajah Lumajang pada masa lampau. Data koleksi mencantumkan Wereldmuseum Amsterdam sebagai sumber, dengan koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen.
Foto Lama Alun-Alun Lumajang
Ketika pertama kali melihat foto ini, perhatian saya langsung tertuju pada keberadaan pohon beringin yang tampak menjadi bagian penting dari kawasan alun-alun. Dalam tradisi kota-kota di Jawa, alun-alun bukan sekadar lapangan kosong. Ruang terbuka semacam ini mempunyai posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, foto alun-alun pada masa lalu bukan hanya menyimpan gambar sebuah tempat, tetapi juga memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah kota dibangun dan bagaimana ruang publik ditempatkan di tengah kehidupan masyarakat.
Foto yang tersimpan dalam koleksi Wereldmuseum Amsterdam tersebut mempunyai nomor objek TMnr 60027266. Wikimedia Commons mencatat judul aslinya sebagai Waringinbomen op de alun-alun in Loemadjang, dengan tanggal perkiraan antara 1880 dan 1920. Nama fotografernya tidak diketahui.
Apa yang Terlihat dari Foto?
Jika kita memperhatikan foto lama Lumajang ini secara perlahan, kita akan menemukan bahwa pohon beringin menjadi objek yang sangat dominan. Beringin atau waringin memang mempunyai posisi khusus dalam kebudayaan Jawa. Pohon ini sering ditemukan di ruang-ruang publik penting, terutama kawasan alun-alun. Karena itu, keberadaan pohon beringin dalam foto Loemadjang bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Namun yang menarik adalah kenyataan bahwa pohon beringin sudah menjadi bagian dari wajah alun-alun Lumajang lebih dari seratus tahun yang lalu. Sebuah tulisan lama tentang foto yang sama juga menyebutkan bahwa foto tersebut memperlihatkan pohon beringin yang berada di tengah-tengah alun-alun Lumajang.
Loemadjang: Nama Lama Lumajang
Bagi pembaca masa sekarang, mungkin muncul pertanyaan: mengapa dalam foto tersebut tertulis Loemadjang, bukan Lumajang? Loemadjang merupakan bentuk penulisan lama yang digunakan dalam dokumentasi berbahasa Belanda. Hal seperti ini cukup sering ditemukan ketika kita membuka arsip foto-foto Hindia Belanda.
Dalam berbagai koleksi sejarah, kita juga dapat menemukan nama-nama tempat di Jawa yang ditulis menggunakan ejaan lama. Karena itulah, ketika mencari foto Lumajang zaman Belanda, kata kunci “Loemadjang” justru menjadi penting. Dengan menggunakan dua kata kunci tersebut—Lumajang dan Loemadjang—kita dapat menemukan berbagai jejak visual mengenai daerah ini yang tersimpan dalam arsip dan koleksi digital.
Mengapa Foto Ini Penting?
Menurut saya, nilai menarik foto ini bukan semata-mata karena usianya yang tua. Foto ini penting karena memberikan bukti visual mengenai keberadaan ruang publik Lumajang pada masa lampau. Dokumen tertulis dapat menceritakan nama tempat, pemerintahan, atau peristiwa. Namun foto memberikan sesuatu yang berbeda: kita dapat melihat langsung suasana fisik sebuah tempat sebagaimana yang berhasil ditangkap oleh kamera pada zamannya. Walaupun kita tidak dapat mengetahui secara pasti siapa fotografernya, kapan tepatnya foto dibuat, atau apa kegiatan yang sedang berlangsung ketika kamera mengambil gambar tersebut, foto ini tetap menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah visual Lumajang.
Pohon Beringin dan Makna Alun-Alun Jawa
Berbicara tentang alun-alun di Jawa, rasanya sulit untuk memisahkannya dari keberadaan pohon beringin.
Dalam banyak kota Jawa, beringin menjadi elemen yang sangat mudah dikenali di kawasan alun-alun. Koleksi foto sejarah di Wikimedia Commons bahkan memperlihatkan banyak dokumentasi alun-alun di berbagai daerah Indonesia yang menampilkan pohon beringin sebagai salah satu unsur penting lanskap kota.
Di Yogyakarta misalnya, dokumentasi lama mengenai alun-alun juga menunjukkan keberadaan pohon beringin yang mempunyai konteks budaya dan simbolik yang kuat. Namun tentu saja, kita tidak boleh langsung menyamakan makna setiap pohon beringin di berbagai kota karena setiap daerah memiliki sejarah dan konteksnya sendiri. Untuk foto Lumajang ini, yang dapat kita katakan dengan cukup aman adalah bahwa pohon beringin merupakan bagian penting dari lanskap alun-alun Loemadjang pada periode 1880–1920.
Membaca Sejarah dari Sebuah Pohon
Menarik juga jika kita mencoba melihat foto ini bukan hanya sebagai dokumentasi bangunan dan ruang kota, tetapi sebagai dokumentasi sebuah pohon. Pohon mempunyai usia yang jauh lebih panjang dibandingkan manusia. Ia dapat tumbuh, menjadi besar, kemudian menjadi penanda sebuah tempat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Karena itu, ketika melihat foto beringin di alun-alun Lumajang yang diperkirakan berusia lebih dari satu abad, muncul sebuah pertanyaan sederhana: apakah pohon yang terlihat dalam foto itu masih memiliki hubungan dengan pohon yang dikenal masyarakat Lumajang sekarang?
Pertanyaan tersebut tentu membutuhkan penelitian lebih lanjut. Foto saja belum cukup untuk memastikan kesinambungan pohon dari masa 1880–1920 hingga sekarang. Justru di sinilah menariknya kegiatan menelusuri sejarah Lumajang melalui foto lama. Satu foto dapat melahirkan banyak pertanyaan baru.
Dari Foto Lama Menjadi Cerita Sejarah Lumajang
Sebagai seorang blogger, saya sering merasa bahwa foto lama memiliki cara tersendiri untuk bercerita.
Tidak ada suara.
Tidak ada video.
Tidak ada keterangan panjang mengenai siapa saja yang berada di lokasi.
Tetapi sebuah foto tetap mampu membuat kita bertanya.
Bagaimana kondisi Lumajang saat itu?
Siapa yang berjalan di sekitar alun-alun?
Bagaimana bentuk jalan pada masa tersebut?
Apakah kawasan alun-alun sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat?
Bagaimana kehidupan masyarakat Loemadjang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat foto Lumajang tempo dulu menjadi menarik untuk dikaji.
Foto Tempo Dulu sebagai Arsip Visual
Di era sekarang, hampir setiap orang dapat membuat foto dalam hitungan detik menggunakan telepon pintar. Dalam satu hari saja, seseorang dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan foto.
Berbeda dengan masa lalu.
Membuat sebuah foto membutuhkan perangkat dan proses yang tidak sesederhana sekarang. Karena itu, sebuah foto yang berhasil bertahan selama lebih dari seratus tahun mempunyai nilai dokumentasi yang sangat menarik. Foto alun-alun Loemadjang ini sekarang dapat dinikmati kembali melalui arsip digital. Wikimedia Commons mencatat bahwa gambar tersebut berasal dari Wereldmuseum Amsterdam dan merupakan bagian dari koleksi National Museum of World Cultures. Bagi generasi sekarang, arsip digital seperti ini membuat sejarah lokal menjadi lebih mudah ditemukan.
Melihat Lumajang dari Sudut Pandang yang Berbeda
Selama ini ketika mendengar kata Lumajang, banyak orang mungkin langsung mengingat Gunung Semeru, perkebunan, pisang, atau berbagai destinasi wisata alam. Tetapi foto lama mengajak kita melihat Lumajang dari perspektif yang berbeda.
Kita diajak melihat Lumajang sebagai sebuah kota yang mempunyai perjalanan sejarah panjang.
Nama Loemadjang dalam arsip lama menjadi salah satu petunjuk perjalanan tersebut. Pohon beringin di alun-alun menjadi saksi visual. Dan sebuah foto hitam putih menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan masyarakat yang hidup lebih dari seratus tahun yang lalu.
Inilah alasan saya menyukai foto-foto tempo dulu. Kadang-kadang sejarah tidak harus dimulai dari buku yang tebal. Sejarah bisa dimulai dari selembar foto.
Sumber Foto
Catatan: Penanggalan 1880–1920 merupakan rentang waktu yang tercantum dalam metadata koleksi, bukan tahun pasti pengambilan foto. Karena fotografer dan tanggal persis tidak diketahui, tulisan ini membedakan antara informasi yang tercatat dalam arsip dan interpretasi terhadap isi foto.